Tahun 2040 Jawa Kehabisan Air, Ratusan Juta Penduduk Terancam

Indonesia merupakan salah satu negara terkaya dalam sumber
daya air karena menyimpan 6% potensi air dunia, tapi pulau terpadat di negara
ini terancam kehabisan air. Sumber air melimpah Indonesia tercantum dalam
laporan badan kerja sama lintas negara, Water Environment Partnership in Asia
(WEPA). Namun kajian resmi pemerintah memprediksi Jawa bakal kehilangan hampir
seluruh sumber air tahun 2040. Ini adalah salah satu alasan di balik wacana pemindahan
ibu kota, bahwa 150 juta penduduk di pulau terpadat Indonesia akan kekurangan
air, bahkan untuk sekadar makan atau minum. Para peneliti Lembaga Ilmu
Pengetahuan Indonesia ( LIPI) menyebut sejumlah faktor pemicu krisis air, dari
perubahan iklim, pertambahan penduduk hingga alih fungsi lahan. Pemerintah
mengklaim proyek bendungan serta revitalisasi waduk dan danau yang terus
berjalan dapat mencegah krisis air, walau akademisi menilai upaya itu belum
cukup membendung bencana yang bakal datang. Baca juga: Kaya akan Karst, Kenapa
Pacitan Kekurangan Air Bersih? BBC News Indonesia bertemu komunitas warga di
Jakarta dan Pacitan, Jawa Timur, yang saat ini merasakan hidup dengan sumber
air terbatas. Pagi itu di akhir Juli lalu, Miratin melakukan aktivitas yang ia
jalani sejak kanak-kanak. Warga Desa Klepu, Kecamatan Donorojo, Pacitan itu
berjalan kaki naik-turun lanskap berbukit, menuju sebuah gua vertikal yang
berjarak satu kilometer dari rumahnya. Miratin dan keluarganya terbiasa mandi,
mencuci baju, lalu membawa sebakul air bersih ke rumah. Rumahnya adalah satu
dari 85 rumah di Desa Klepu yang tidak tersambung pipa Perusahaan Daerah Air
Minum (PDAM). "Kadang saya juga beli air, biasanya 20 liter seharga Rp500.
Itu untuk masak dan mencuci. Sorenya saya beli lagi atau ambil ke gua."
. "Sebenarnya berat setiap hari harus ke gua. Tapi mau
bagaimana lagi? Saya juga sudah terbiasa," ujarnya. Sekitar 100 meter dari
rumah Miratin sebenarnya terdapat satu sumur. Namun saat kemarau, tak ada air
yang bisa ditimba dari sumur tersebut. Merujuk pemetaan Badan Nasional
Penanggulangan Bencana, Jawa Timur termasuk provinsi yang paling terdampak
kemarau panjang tahun 2019. Puluhan desa di Pacitan disebut bakal mengalami
kekeringan akut Agustus hingga September mendatang. Hujan yang semakin jarang
turun juga mempengaruhi suplai air penduduk Desa Klepu di Pacitan yang telah
terhubung leding, salah satunya Katini. "Sulit sekali mendapat air bersih
di musim kemarau ini. Ada jaringan PDAM tapi airnya tidak keluar,"
tuturnya.
Katini dan sebagian besar tetangganya kini bergantung pada
bantuan air bersih dari pemerintah. Karena bantuan datang tak tentu hari,
mereka terpaksa membeli satu tangki air berisi 6000 liter seharga Rp330 ribu.
"Tidak (ada) air, hidup sulit, karena itu kebutuhan yang paling penting.
Segala sesuatu butuh air," katanya. Sementara itu di Jakarta, warga
Kecamatan Tambora bernama Mamas kian bergantung pada pedagang air keliling pada
musim kemarau ini. Pompa air manual miliknya semakin kepayahan menyedot air
tanah dari sumur sedalam 14 meter. Mamas dan keluarganya adalah bagian dari 40%
rumah tangga di Jakarta yang tidak tersambung pipa air bersih. " Air yang
keluar sedikit waktu kemarau, pompa perlu diistirahatkan dulu. Setelah setengah
jam, baru air keluar lagi. Mungkin air sudah surut, padahal cukup dalam. Kalau
musim hujan, setiap hari ada air," ujarnya.
Apakah krisis air Jawa benar-benar bisa terjadi? Krisis air
terjadi saat kebutuhan atas sumber daya ini lebih tinggi dibandingkan tingkat
ketersediaannya, kata peneliti senior di Pusat Geoteknologi LIPI, Rachmat Fajar
Lubis. Persoalannya di Jawa, kata Rachmat, air selalu dipersepsikan sebagai
sumber daya terbarukan karena Indonesia mengalami musim hujan setiap tahun.
Padahal, ia menyebut curah hujan Jawa tidak pernah bertambah, bahkan cenderung
menurun dalam beberapa tahun terakhir. Menurut Rachmat, ancaman krisis air di
Jawa bisa semakin nyata. Alasannya, perubahan iklim itu diperparah faktor
antropogenik: pengambilan air secara besar-besaran untuk rumah tangga dan industri
maupun alih fungsi lahan. "Kalau pemerintah dan masyarakat tidak melakukan
apa-apa, kita harus sangat khawatir. Kebutuhan air terus naik, tapi air makin
berkurang dan tercemar," ucapnya.
Merujuk data ketersediaan air yang disusun Pusat Litbang
Sumber Daya Air (SDA) Kementerian PUPR, satu orang di Jawa saat ini bisa
mendapat 1.169 meter kubik air per tahun. Ketersediaan air yang setara 58 truk
tangki air berbobot 20 ribu liter itu dilabeli status 'ada tekanan'.
Ketersediaan air untuk setiap satu penduduk Jawa diprediksi akan terus menurun
hingga mencapai 476 meter kubik per tahun pada 2040. Angka itu dikategorikan
kelangkaan total. Angka itu tercantum dalam Kajian Lingkungan Hidup Strategis
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) yang disusun Bappenas
tahun 2019. Sebagai perbandingan, Menteri PUPR Basuki Hadimuljono pernah
berkata bahwa ketersediaan air ideal untuk satu orang setiap tahun adalah 1.600
meter kubik. Ancaman krisis air ini disebut hanya melanda Jawa. Bappenas
mencatat, ketersediaan air untuk penduduk di pulau lain tak bermasalah alias
tanpa tekanan.
Saat ini satu orang di Bali setiap tahun bisa mendapat 4.224
meter kubik. Adapun, air terbanyak tersedia di Papua di mana satu penduduk
setiap tahun dapat menggunakan air hingga 296.841 meter kubik
Apa penyebabnya? Heru Santoso, peneliti senior di Pusat
Geoteknologi LIPI, menyebut curah hujan di Jawa cenderung terus berkurang
sekitar 3%. Menurutnya penurunan itu tidak lebih berdampak pada ketersediaan
air ketimbang tren peningkatan temperatur udara. "Karena kenaikan suhu,
sampai mendekati 2 derajat celcius pada tahun 2070, evaporasi atau penguapan
air menjadi tinggi. Itu menyebabkan defisit air." "Perubahan fungsi
lahan juga berpengaruh tapi jauh lebih besar pengaruh perubahan iklim. Kalau
tidak ada perubahan iklim, jumlah air tetap, tinggal diatur misalnya berapa
yang dialirkan untuk penduduk," tuturnya. Di sisi lain, Heru memprediksi
alih fungsi lahan dari area resapan menjadi pemukiman dan daerah industri juga
mengancam sumber air di Jawa. "Jawa masih menjadi daerah industri andalan,
bahkan ada rencana pembangunan area pantura dan proyek infrastruktur yang
masif, ini tantangan berat." "Upaya menjaga lahan serba salah karena
kebutuhan lahan yang tinggi," ujarnya. Dalam penelitian Wahana Lingkungan
Hidup Indonesia (Walhi) misalnya, kawasan tambang di Jawa Timur selama 2012-2016
meningkat dari 80 ribu menjadi 151 ribu hektare. Mayoritas lahan tambang baru
itu disinyalir berada di kawasan hutan. Direktur Walhi Jawa Timur, Rere
Christanto, mengklaim alih fungsi lahan di Kota Batu selama 2001-2015 juga
membabat setengah sumber mata air wilayah tersebut. Tahun 2015, kata Rere,
tersisa 51 mata air di Batu. "Saat tidak ada hujan lebih 100 hari di Jawa
Timur, neraca air minus. Tapi itu diperburuk kebijakan yang justru mengurangi
kawasan resapan air."
Ada penjelasan ilmiah yang bisa menghubungkan bahwa
berkurangnya neraca air di Jawa terjadi seiring berkurangnya kawasan ekologis
resapan air," kata Rere.
Sumber Kompas.com
0 Response to "Tahun 2040 Jawa Kehabisan Air, Ratusan Juta Penduduk Terancam"
Post a Comment