-->

Jangan Menikah karena Desakkan Waktu!



"Jika kita bertemu dengan pasangan yang baru menikah, pasti mereka menyarankan kita agar cepat-cepat menikah. Tapi jika kita bertemu dengan pasangan yang sudah lama menikah, mereka akan menyarankan jangan terburu-buru menikah, nikmati dan baktikan diri kepada orang tuamu".

Jodoh Itu Tuhan yang Mengatur
Kita tidak perlu membebani diri dengan celaan orang-orang yang sudah menikah.

Memang, kadang kepala ini sakit setiap saat mendengar kata "menikahlah", "tunggu apalagi", "kiamat sebentar lagi!", "Nikah itu enak loh!", dan bermacam sindiran lain.

Belum lagi jika kita berkali-kali nge-like tulisan samawa dek, barakallahu fikum dek, semoga awet sampai menua, dan mutiara-mutiara lainnya. Ingin rasanya berteriak kepada mereka bahwa jodoh itu urusan Tuhan, bukan urusanmu!
Sejatinya, menjadi dewasa berarti kita terlalu ambil hati dengan celaan orang.

Singkatnya, orang cuma bisa ngomong doang, dia tidak sedang di posisi kita, dan dia tidak tahu sepenuhnya keadaan kita.

Tentu saja kita secara pribadi tidak mau menunda-nunda nikah jika jodoh telah mampir. Persoalannya terletak pada calon, entah masih disembunyikan oleh Tuhan, atau kita yang belum pantas untuk ditemukan.

Karena jodoh itu adalah takdir Tuhan, kita tidak bisa menuntut dalam waktu tertentu harus menikah.

Misalnya, target kita tahun depan nikah, atau dua tahun lagi, atau malah lima tahun lagi.
Tidak mungkin kita berteriak dan mendesak Tuhan agar segera mendatangkan jodoh. Cukup kita sampaikan jeritan hati lewat bingkai doa yang tulus.

Lama atau tidaknya jodoh itu datang tidaklah perlu kita tunggu. Jika kita menunggu, waktu rasanya lama sekali berlalu
Wajar, kata menunggu sudah tersugesti di dalam otak kita. apalagi di kala sendiri, akan lebih lama lagi. Lebih baik kita keluar rumah, daripada berteman dengan kebosanan di dalam kamar.

Menikah Bukan karena Nafsu
Pilihan jodoh sebenarnya bukan karena cantik, tampan rupa, ataupun kekayaan. Terang saja, cantik bisa hilang seketika jika tersiram debu dan keriput di hari tua.

Tampan juga bisa hilang saat rambut putih menjelang. Kekayaan juga bisa hilang sekejap mata jika Tuhan tarik nikmat itu dari kita.

Nafsu memang demikian. Perempuan cantik banyak, entah karena itu faktor keturunan maupun faktor make up.

Kalau kita hanya melihat sekilas, cantik hanya diukur dari "mahalnya" pakaian, dandanan, serta tebalnya bedak. Itu tidaklah bertahan lama.

Semakin hari akan semakin banyak yang lebih cantik dan tampan. Ibaratnya seperti Android, yang semakin hari semakin banyak pilihan menarik.

Jika kita tidak sabar, bisa bobrok keuangan kita gara-gara gonta ganti Android. Ya, itulah selera hawa nafsu.

Makanya, jalinan hubungan karena nafsu tidak bertahan lama. Lihatlah orang yang berpacaran, mulai dari 5 tahun, 1 tahun, 1 bulan, hingga ada yang bertahan cuma beberapa hari.

Wajar, cinta monyet tidak sebatas pisang. Jika ada apel pilih apel, jika ada salak pilih salak. Terus memilih, selama ada pilihan yang lebih baik.
Dari sini, kita jangan terlalu cepat mengambil keputusan soal pernikahan. Apalagi jika baru kenal. Kita harus tanya diri kita terlebih dahulu, "aku suka dia karena cinta atau karena nafsu?" Kemudian kita berusaha mengenal lebih dalam pasangan kita. jangan selalu menatapnya disaat ia berdandan atau berpakaian mewah, tapi tatap juga saat ia "lusuh".

Itulah pembuktian, sejati atau tidak cinta kita kepada si calon.

Menikah Tidak Harus Menunggu Mapan
Tuntutan kebiasaan masyarakat bahwa menikah itu kesannya "mewah" dan "mahal" menimbulkan beban tersendiri bagi kaum laki-laki.

Terang saja, di saat diri didesak oleh umur yang kian menua, mereka juga seakan dipaksa banting tulang untuk mencapai predikat "mapan".

Kata mapan sudah terlanjur diukur oleh sebagian masyarakat dengan kekayaan dan kecukupan harta.

Akhirnya sebagian laki-laki belum berani melamar karena belum siap menjawab pertanyaan calon mertua: kamu kerja apa, mau kasih makan apa anak saya?

Padahal, rezeki itu urusan Tuhan. Sungguh, mapan tidak sesederhana itu.

Mapan sejatinya tidak melulu diukur dengan harta. Kemapanan seseorang dapat terlihat dari kestabilan diri, prinsip, pemikiran, hingga kebaikan sikap. Baik perempuan atau laki-laki.

Bahkan, lebih baik kiranya menikah itu sebelum mapan. Berpijak dari hadis Rasulullah SAW: Ketika seseorang menikah, berarti ia telah menyempurnakan setengah agamanya. Maka bertaqwalah kepada Allah pada setengah sisanya.(HR. Baihaqi).

Berdasarkan hadis ini, kemapanan akan terbentuk setelah menikah. Tentu saja itu adalah sebuah proses yang panjang. Pasangan akan terlebih dahulu diuji dengan kesusahan, permasalahan yang tak terduga, hingga finansial yang naik turun.

Jika sanggup menghadapi semua beban itu dengan suka cita dan bersama-sama dalam satu rasa, barulah tercapai hakikat dari mapan itu sendiri.

Tempuh Jalan yang Baik
Sebaik-baiknya jodoh adalah jodoh yang didatangi dengan baik. Dan sebaik-baiknya pernikahan adalah yang pernikahan yang ditempuh dengan cara yang baik.

Dalam Islam, sebaik-baiknya wanita adalah wanita yang memudahkan mahar, dan sebaik-baiknya laki-laki adalah yang memberikan mahar terbaik untuk calon istrinya.

Secara mendalam, kalimat ini mengandung makna bahwa pihak wanita tidak boleh membebani laki-laki dengan perihal "kemewahan" yang tidak disanggupi laki-laki.

Sebaliknya, laki-laki tetap harus berusaha memberikan mahar yang "terbaik" sesuai kemampuannya. Ini tentu sangat indah bukan?

Jadi, kiranya orangtua dan masyarakat harus bijak dan tidak mempersulit sesuatu yang bernilai ibadah. Karena cinta itu kadang membutakan dan membuat orang  jadi kalap.

Beberapa kali kita lihat banyak sekali pasangan yang "keduluan" mencoba sebelum akad nikah, dan tidak jarang pula ada pasangan yang "kabur" karena tak direstui.

Sebabnya cukup rasional, kalau tidak soal uang ya soal restu. Dari sini, menikah agaknya melanggar kenyataan dan terkesan memaksakan.

Untuk itu, sangat perlu membekali diri dengan adab/ilmu pernikahan. Tidak cukup calonnya saja yang dibekali, tetapi juga orangtua dan masyarakatnya.

Terang saja, seringkali calon memiliki bekal keilmuan yang mumpuni tentang pernikahan, namun para orangtua malah tidak memahami dan terkesan memaksakan kebiasaan di masyarakat.

Lama-kelamaan ini bisa jadi polemik, yang menghambat sebuah ibadah.

Menikah juga tidak melulu harus berpacaran, karena berpacaran dapat mengundang "keburukan". Belum lagi sakit hati jika ditolak dan tidak jodoh. Siapa bilang menjadi jomblo itu "rendahan"?

Kita buang jauh-jauh pemikiran tradisional semacam itu! Jomblo sejatinya lebih mulia, apalagi selalu menebar kebaikan dan berguna di masyarakat.

Dari kebaikan dan kebergunaan itulah niscaya jodoh akan menghampiri kita, tentu saja jodoh yang baik.

Salam, Tiada kata stop untuk tebar kebaikan.

0 Response to "Jangan Menikah karena Desakkan Waktu!"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

loading...