Amankah pakai "Menstrual Cup" sebagai pengganti pembalut
Menstrual
cup mungkin masih terdengar asing untuk sebagian besar wanita di Indonesia.
Namun, penggunaan alat ini belakangan mulai populer sebagai alternatif pembalut
karena lebih murah dan ramah lingkungan. Menstrual cup adalah alat yang terbuat
dari silikon atau lateks yang aman untuk tubuh, berbentuk seperti corong,
dengan ukuran lebih kecil. Berbeda dari tampon dan pembalut yang berfungsi
untuk menyerap cairan haid, menstrual cup, seperti namanya, digunakan untuk
“menadah” darah selama menstruasi. Karena terbuat dari bahan silikon atau
lateks, menstrual cup dapat digunakan dalam waktu lama hingga 10 tahun (bisa
digunakan kembali) sehingga alat ini dianggap lebih hemat dan ramah lingkungan
dibandingkan dengan pembalut atau tampon.
Menstrual cup tersedia dalam berbagai
ukuran. Daya tampungnya pun menyesuaikan dengan kebutuhan setiap individu.
Umumnya, menstrual cup aman digunakan selama 12 jam dan dapat menampung satu
ons cairan (dua kali lipat daya tampung pembalut). Untuk menentukan ukuran menstrual
cup yang tepat, Anda dapat melakukan diskusi dengan dokter Anda.
Hal yang perlu
dipertimbangkan adalah: • Usia • Panjang serviks • Jumlah darah saat haid •
Konsistensi dan fleksibilitas menstrual cup • Kapasitas cup • Kekuatan otot
dasar panggul • Jenis persalinan yang telah dijalani Bagaimana cara menggunakan
menstrual cup dengan baik? Hampir sama dengan penggunaan tampon. Anda perlu
memosisikan diri senyaman mungkin, bisa dengan duduk, jongkok, atau salah satu
kaki diangkat ke atas.
Cucilah tangan terlebih dahulu sebelum pemasangan.
Setelah itu, pegang ujung menstrual cup dengan melipatnya seperti bentuk huruf
U. Lalu, masukkan ke dalam vagina perlahan hingga ujungnya. Saat masuk ke dalam
vagina, putar alat, kemudian cup akan terbuka dan menutup lubang vagina.
Ketika terpasang dengan benar, seharusnya Anda tidak merasakan ada alat tersebut di dalam vagina. Menstrual cup yang tersedia di pasaran ada yang reusable dan ada yang disposable. Untuk melepas menstrual cup ini, Anda dapat menarik tangkai yang ada di bagian bawah menstrual cup dengan jari telunjuk dan jempol, kemudian tekan bagian dasar alat ini untuk diambil dan ditarik keluar untuk melepasnya. Setelah dilepaskan, kosongkan cup, dan cuci dengan sabun (sesuai dengan pH vagina) dan air bersih. Pada akhir masa haid, Anda dapat mensterilkan menstrual cup dengan merebusnya di dalam air selama 5-10 menit. Tentunya penggunaan menstrual cup ini memiliki keuntungan dan kerugian tersendiri.
Ketika terpasang dengan benar, seharusnya Anda tidak merasakan ada alat tersebut di dalam vagina. Menstrual cup yang tersedia di pasaran ada yang reusable dan ada yang disposable. Untuk melepas menstrual cup ini, Anda dapat menarik tangkai yang ada di bagian bawah menstrual cup dengan jari telunjuk dan jempol, kemudian tekan bagian dasar alat ini untuk diambil dan ditarik keluar untuk melepasnya. Setelah dilepaskan, kosongkan cup, dan cuci dengan sabun (sesuai dengan pH vagina) dan air bersih. Pada akhir masa haid, Anda dapat mensterilkan menstrual cup dengan merebusnya di dalam air selama 5-10 menit. Tentunya penggunaan menstrual cup ini memiliki keuntungan dan kerugian tersendiri.
Beberapa efek samping yang mungkin terjadi pada penggunaan menstrual
cup adalah iritasi vagina, alergi lateks, dan toxic shock syndrome (TSS).
Iritasi vagina Pada beberapa studi klinis, pengguna menstrual cup lebih banyak
mengalami iritasi vagina dibandingkan pengguna tampon. Namun, angka kejadian
iritasi vagina ini semakin menurun pada pengguna yang sudah sering
menggunakannya.
Hal penting yang harus dilakukan adalah mencuci tangan sebelum
memasukkan cup, membersihkan cup sebelum penggunaan kembali, dan mengosongkan
cup 2-3x sehari. Alergi lateks Pada wanita dengan riwayat alergi lateks atau
bahan karet, pastikan bahan menstrual cup sebelum penggunaan. Toxic shock
syndrome (TSS) Toxic shock syndrome adalah kejadian langka yang dapat
membahayakan nyawa akibat komplikasi infeksi bakteri tertentu.
TSS sering
disebabkan oleh toksin yang diproduksi Staphylococcus aureus, tetapi dapat juga
disebabkan oleh toksin Streptococcus tipe A. Bakteri tersebut dapat tumbuh
dalam cairan darah haid. Cara pemakaian dan perawatan menstrual cup yang tidak
bersih menyebabkan penggunanya rentan terhadap infeksi dan TSS ini. Ketika
bahaya iritasi dan infeksi mengintai, sebisa mungkin gunakanlah menstrual cup
dengan bijak. Hal penting yang harus diperhatikan adalah kebersihan tangan
serta cara mencuci dan mensterilkan menstrual cup yang benar bila hendak
digunakan kembali.
Sumber berita Kompas.com

0 Response to "Amankah pakai "Menstrual Cup" sebagai pengganti pembalut"
Post a Comment